Siapa ya penulis Pertama menurut sejarah dunia ?
Banyak juga Nih Pendapatnya, tapi yang mana ya
Nabi Idris, Penulis Pertama dengan Pena (Part II – Selesai)
Sebelumnya : “… Nabi Idris AS diakui oleh banyak ulama dan ahli tafsir, adalah seorang nabi yang memiliki banyak keistimewaan. Keistimewaan ini diantaranya adalah kemampuannya dalam menulis, menggambar, menjahit, menguasai ilmu perbintangan (astronomi), dan lain sebagainya… Al-Maghluts juga menyebutkan, pada masanya, manusia sudah berbicara dalam 72 bahasa. Dan ketika beliau berdakwah kepada kaumnya, Nabi Idris AS sudah menggambar pembangunan kota-kota, sehingga kota yang dibangun pada masanya sudah berjumlah 188 kota. Selain itu, Nabi Idris AS juga yang membagi wilayah bumi menjadi 4 bagian dan menetapkan setiap bagiannya seorang raja. Nama-nama raja itu adalah Elaus, Zous, Esqlebeos, dan Zous Amon…”.
Nah teman-teman, kita lanjutkan pembahasannya ya, sumbernya masih sama koq, yaitu dari buku Situs-Situs Dalam Al Qur’an, Dari Banjir Nuh hingga Bukit Thursina, karya Syahruddin El Fikri, Terbitan Republika, tahun 2010.
Banyak juga Nih Pendapatnya, tapi yang mana ya
Nabi Idris, Penulis Pertama dengan Pena (Part II – Selesai)
Sebelumnya : “… Nabi Idris AS diakui oleh banyak ulama dan ahli tafsir, adalah seorang nabi yang memiliki banyak keistimewaan. Keistimewaan ini diantaranya adalah kemampuannya dalam menulis, menggambar, menjahit, menguasai ilmu perbintangan (astronomi), dan lain sebagainya… Al-Maghluts juga menyebutkan, pada masanya, manusia sudah berbicara dalam 72 bahasa. Dan ketika beliau berdakwah kepada kaumnya, Nabi Idris AS sudah menggambar pembangunan kota-kota, sehingga kota yang dibangun pada masanya sudah berjumlah 188 kota. Selain itu, Nabi Idris AS juga yang membagi wilayah bumi menjadi 4 bagian dan menetapkan setiap bagiannya seorang raja. Nama-nama raja itu adalah Elaus, Zous, Esqlebeos, dan Zous Amon…”.
Nah teman-teman, kita lanjutkan pembahasannya ya, sumbernya masih sama koq, yaitu dari buku Situs-Situs Dalam Al Qur’an, Dari Banjir Nuh hingga Bukit Thursina, karya Syahruddin El Fikri, Terbitan Republika, tahun 2010.